Berlari menunggu mentari

Ilustrasi Lari Pagi06.47 pagi, sudah siap dengan sepatu hitam, kaos kaki putih. Melangkah meniggalkan kosan. Pagi hari di Jatinangor terasa masih terasa dingin maka saya pakai jaket merah. Bukan karena hari ini imlek atau hari ini hari valentine, tapi karena ya adanya cuma itu saja.

Keluar dari gang kosan, dan berbelok ke kiri menuju gang lain. Lalu menanjak menuju ke arah jalan raya. Di ujung gang mamang bubur ayam dekat kecamatan sedang menyuguhkan sarapan pagi buat pelanggannya. Keluar gang langsung lanjut menyebrang jalan menuju kampus UNPAD yang masih berkabut tipis. Gunung geulis pun masih diselimuti kabut.

Masuk gerbang, sudah ada para pecinta olah raga minggu pagi. Saya pemanasan dulu memutar melewati Stadion bola, yang suka di sebut teman-teman stadion berdebou tapi sekarang sudah di pugar dan kelihatan mewah.Setelah pemanasan saya mulai berlari, lewat sekre UKM pramuka dan wisma padjadjaran lalu masjid Ibnu Sina.

Lalu berbelok ke kanan menuju fakultas sastra. Tidak seperti di depan gerbang tadi di sini suasananya lebih lengang. Hanya beberapa grup keluarga atau satu-dua pasangan yang saya temui.

Udara makin dingin, tapi tidak berangin. Melewati FIK, Fikom, SC Fikom,  turunan lalu tanjakan tajam, kandang sapi perah, kandang kelinci, kandang domba, Graha sartika, Sport Center yang baru diresmikan. Lalu sampai di putaran belakang berbelok ke arah jalan antara Fapet dan PPBS.

Nafas makin tersengal, minggu kemarin saya hanya kuat sampai disini, dan berhenti di selter di depan kantin PPBS. Tapi hari ini saya kuatkan hati, kalau saya bisa lebih jauh. Terlewatilah Statistika, Farmasi, Pertanian, Geologi, Psikologi, FKU, FKG. Menuruni tanjakan cinta sembari dalam hati berkata “Abis turunan ini udah ah…!”.

Dan benar saja, sebahis turunan di tanjakan cinta, saya cukipkan lari hari ini. Dan saya beristirahat di pinggiran lapangan kick’ers sembari melihat bocah-bocah main futsal. Huft… Cape juga, ternyata saya sanggup juga berlari tanpa henti sampai sini. Sambil berpeluh saya menuggu sang mentari bersinar, karena jam segitu matahari belum nongol. Setelah peluh dirasa tidak deras lagi, dan sang mentari pun sudah menunjukkan sinarnya, saya lanjutkan berjalan pulang.

Keluar pintu gerbang, nyebrang jalan, eh ketemu ibu ‘tukang jual nasi’ yang kalau hari biasa muter ke kosan-kosan. Saya sarapan saja dulu, sarapan lontong kari. Percaya atau tidak, ini pertama kali saya makan lontong kari, hehe. Dulu saya pikir rasanya sama seperti lontong sayur, ternyata beda, lontong kari lebih manis karena pakai kecap.

Sudah habis lontong karinya, bayar, dan pulang. Enak juga ternyata, habis olahraga, makan, hehe. Munkin kurang baik buat kesehatan, betul tidak ‘ahli nutrisi’ ?

7.43 sampai di dalam kosan dan langsung ngidupin laptop.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: